Dua Cangkir Kopi

By Malia Siza - 5:00 PM

Aku tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Menurut versiku, kamu yang salah. Dan menurut versimu, aku yang salah. Begitulah, kita saling menyalahkan satu sama lain. Semua karena....

"Mau tambah gulanya lagi?" Sopan kamu menyodorkan cangkir putih tempat gula.
Aku menggelengkan kepala.
"Jika terlalu manis, itu tidak baik" jawabku.
"Maaf tadi tidak sengaja menumpahkan kopimu, anggap aja ini gantinya"
"Ya, pertemuan pertama karena kopi, semoga tidak sepahit kopi nantinya"
Kita tertawa. Padahal aku serius mengatakan itu.

Potongan pertemuan pertama kita hampir sama persis seperti sekarang ini. Kita berdua duduk saling memandang kopi masing-masing.

"Kenapa kamu tidak pernah percaya padaku Lea?" Kamu menatapku kecewa.

Al, Aku melihatmu dengan Dena. Kamu masih dengannya. Aku menghargai perasaan Dena.

Aku diam.

"Kamu selalu menuduh. Banyak wanitalah. Aku merasa direndahkan"
Katamu berapi-api.

Al, coba jelaskan siapa Dena? Siapa Intan? Aku tahu nama mereka Al.

"Maaf. Maaf kalau kata-kataku merendahkanmu"

Kita berdua diam. Menyesap kopi masing-masing. Pahit.

"Kamu cewe aneh. Selalu cepat menyimpulkan sendiri. Terburu-buru. Menuduh. Terserahlah, aku membebaskanmu mau percaya atau tidak" katamu kemudian.

"Aku percaya padamu. Aku hanya bertanya. Wajar kan? Apa semua pertanyaanku seperti menuduh? Kamu merasa direndahkan? Kenapa? Padahal kamu hanya tinggal menjawab. Apa pertanyaanku memiliki penekanan?" Tanyaku datar.

Al, aku bukan menuduh. Aku hanya mencari kebenaran. Pertama, kamu bertemu dengan Dena di bulan Februari. Kedua, kamu bertemu lagi dengannya di bulan Juni dan Juli. Ketiga, Dena masih menganggapmu tunangannya. Keempat, kamu tidak pernah terbuka tentang teman-temanmu. Kelima, adikmu saja tidak tahu aku siapa. Yang dia tahu, tunanganmu itu ya Dena. Keenam, aku susah payah bertanya pada temanmu. Jawaban mereka, sama seperti adikmu.

Kamu diam. Entah apa yang sekarang tengah berkecamuk dalam pikiranmu

"Aku percaya kamu Al"

Percaya jika memang semua bukti tentangmu itu benar. Percaya perkataan adikmu benar, percaya perkataan temanmu benar.

"Menurutmu aku aneh, selalu menuduh dan mengganggu. Hmm..baiklah, aku tidak akan menganggumu lagi Al" untuk terakhir kalinya aku meneguk habis kopiku dan meninggalkan ampasnya.

Selamat Al, kamu akan menikah dengan Dena kan? Aku diam Al, seolah tidak tahu. Karena aku memang tidak tahu, apa rencanamu. Aku tidak tahu yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Dena. Aku tidak tahu Al. Aku tidak tahu siapa yang salah. Aku hanya ingin kamu menjelaskan semuanya terlebih dahulu, biar kita bisa memulainya dari awal.

                             ***

Lea sungguh sulit ditebak. Kadang seperti mempermainkan kadang serius. Kadang menjadi pemarah dan kadang penyabar.

Dia duduk manis di depanku, matanya membundar.

"Maaf. Maaf kalau kata-kataku merendahkanmu" katamu.

Aku tulus menyukaimu Lea. Beri aku kesempatan. Jika denganmu sudah pasti, aku tidak akan ragu.

"Aku percaya padamu. Aku hanya bertanya. Wajar kan? Apa semua pertanyaanku seperti menuduh? Kamu merasa direndahkan? Kenapa? Padahal kamu hanya tinggal menjawab. Apa pertanyaanku memiliki penekanan?" Cecarmu.

Lea, aku sedang bimbang Lea. Status denganmu tidak pernah jelas. Aku sudah mencoba mengungkapkannya padamu. Kamu seolah menolak. Hanya ingin berteman dekat saja. Dena memintaku kembali. Aku menunggumu Lea. Menunggu kepastianmu.

"Aku percaya kamu Al"

Tapi kamu tidak memberikan kepastian Lea. Pertanyaanmu selalu menuduh. Aku kecewa Lea.

"Menurutmu aku aneh, selalu menuduh dan mengganggu. Hmm..baiklah, aku tidak akan menganggumu lagi Al" Lea benar-benar pergi. Ia tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya.

Kopiku masih tersisa setengahnya. Sudah dingin dan terasa asam.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments